Ada banyak sekali orang di sekitar kita yang menyukai suasana hening.
Alasannya bermacam-macam, ada yang bilang biar lebih mudah belajar,
lebih mudah menghafal, lebih lancar menulis, lebih menghayati belajar
puisi, dan lain-lain. Yang pasti intinya ialah agar ia lebih mampu
berkonsentrasi dengan lebih baik.
Penulis pemula
seperti saya pun demikian. Untuk mampu menyelesaikan sebuah tulisan,
saya harus berada di tempat yang hening. Semua imajinasi yang biasanya
sudah tergambar sebelumnya, biasanya akan melarikan diri ketika
mendengar suara-suara keras apalagi bising. Pernah saya mencoba menulis
saat teman-teman saya sedang mengobrol lepas dan hasilnya sudah bisa
ditebak, nol besar!
Suasana hening membuat saya lebih mampu mengeksplorasi ide-ide tulisan. Dapat membayangkan atau mengingat-ingat latar, raut wajah tokoh jika tulisan
itu sebuah cerpen. Bahkan, mampu merasakan diri terbang tinggi menuju
rasi bintang paling manis. Wow! Iklan kali ya? Hehehehe...!
Menulis
cerita-cerita bahagia saja, bagiku harus berhening-hening. Apalagi jika
menulis kisah galau yang saat ini memang sedang mengetren di jejaring
sosial. Jadi mau tidak mau, saya memang harus mencintai "hening" itu,
meski tak harus setiap saat menyatu dengan dirinya. Mmm..! Lebay mode
on!
Sisi kurang bagusnya ialah ketika ide tulisan sedang membuncah-buncahnya di kepala dan suasana hening itu belum juga menyapa. Ingin menangis rasanya. Tapi, suatu saat saya pasti bisa menulis meski dalam suasana bising berisik.
Tulisan tentang "hening" ini mungkin adalah awalnya. Kutulis saat jaga
di warnet yang di waktu bersamaan, suara gaduh teman-teman teramat keras. Semoga berkesan.
Sketsa Zaman
Mencoba Mengambil Hikmah Yang Berserakan
Laman
Minggu, 26 Februari 2012
Selasa, 15 Maret 2011
Selasa, 04 Januari 2011
Insaf
INSAF
Gelap semakin angkuh dengan hitamnya
Dingin pun semakin beku
Menambah lengkap perih takut dalam kalbu
Tuhan…!
Aku telah lama melupakanmu
Tak pernah hirau atas bisikanmu
Adakah secercah ampunan untukku…?
Langganan:
Komentar (Atom)